Stand Raozen pada pameran waralaba di JCC Senayan, Jakarta.

Perkembangan era modern menuntut segala hal di dunia ini bergerak lebih cepat, membuat siapapun kini menyukai yang serba praktis dan efisien. Hal ini juga mempengaruhi perkembangan bisnis restoran.

Kepada VIVAnews, Operational Corporate Manager Sambara Restaurant, Eric Michael, menjelaskan bahwa masyarakat menggemari makanan instan karena pengolahannya tidak makan waktu yang lama. Namun, mayoritas makanan siap saji merupakan produk luar negeri. Karena itu, tercetus ide untuk membuat makanan lokal siap saji.

“Ini semua bermula dari pengelolaan restoran delapan tahun yang lalu. Kami mengamati orang-orang memerlukan makanan dan makanan instan juga karena itu praktis,” ujarnya di Jakarta.

Menurut Eric, minat konsumen yang tinggi terhadap makanan instan ini memberi peluang untuk menjual produk makanan kemasan namun bercita rasa lokal.

“Mengapa makanan rumahan tidak dikemas?” kata Eric.

Maka, kata Eric, restorannya mulai membuat jenis makanan siap saji pada Januari 2013. Pembuatannya dilakukan di pabrik khusus.

“Untuk buat pabrik, kami menghabiskan Rp150-200 juta. Itu juga membeli peralatannya,” kata Eric.

Dari situlah, Eric melanjutkan, hadir suatu produk makanan instan bermerek Raozen,  makanan olahan yang sudah matang yang dikemas dan bumbu siap pakai.

Eric menjelaskan, Raozen penyajiannya sangat mudah, yaitu bisa panaskan ke dalam oven, microwave, atau digoreng. Harganya pun sangat terjangkau. “Bumbu harganya Rp13.500, ayam madu harganya Rp30 ribu, dan gepuk manis daging (semacam empal) harganya Rp35 ribu,” kata Eric.

Sambara menjual makanan-makanan instan ini ke berbagai pasar swalayan yang ada di Bandung, seperti Yogya dan Griya. Dari penjualan ini, Sambara bisa memperoleh untung sebesar Rp250-300 juta per bulan. “Kami tidak ada distributor, tapi reseller,” kata Eric.

Eric menambahkan, Sambara awalnya harus berupaya kerasa dalam memperkenalkan dan memasarkan produk Raozen. Apalagi riset yang dilakukan satu setengah tahun menunjukkan bahwa banyak pemain yang sudah berkecimpung dalam bisnis makanan olahan.

Tapi, kata Eric, keunggulan Raozen adalah mengangkat makanan olahan lokal dalam kemasan untuk memenuhi tuntutan era modern. Sementara masyarakat masih banyak yang tidak menyadari bahwa kelezatan sajian makanan dalam negeri pun bisa dihadirkan dengan lebih mudah.

“Nah, ini adalah tantangannya,” kata Eric.

Sambara telah mendaftarkan produknya ini untuk diteliti pada laboratorium pangan di Universitas Padjadjaran, Bandung. Selain itu, Sambara juga mengajukan permohonan label halal dan sertifikat dari Dinas Kesehatan Provinsi Bandung.

“Kami juga menyiapkan daftar kandungan nutrisi dari Sucofindo. Ada juga international bar code. Pokoknya kami mempersiapkan segalanya,” kata Eric.

Hingga akhirnya, perlahan-lahan masyarakat pun  mulai tertarik dan menerima produk ini. “Responnya bagus. Awalnya, mereka tidak percaya makanan ini bisa tahan lama,” kata dia.

 

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/442807-peluang-bisnis-makanan-rumahan-dalam-kemasan