Jawabannya: hampir semua orang yang pernah jajan di depan sekolah, pasar pagi, atau gang komplek. Kue pukis itu sederhana, empuk, wangi, dan bisa diisi macam-macam. Karena itu sampai sekarang masih laku dijual di gerobak, kafe rumahan, bahkan hotel yang mau menampilkan jajanan tradisional di buffet. Buat pelaku F&B, pukis menarik karena costing-nya gampang dihitung, adonannya bisa dibuat batch, dan penyajiannya bisa dibuat lebih premium kalau alatnya tepat.
Dari Adonan ke Cetakan
Adonan pukis biasanya terdiri dari tepung terigu, santan atau susu, telur, gula, dan ragi/baking powder. Kuncinya ada di kekentalan: jangan terlalu cair supaya tidak melebar, dan jangan terlalu kental supaya teksturnya tidak padat. Untuk menakar adonan ke cetakan biar ukuran satuan seragam, bisa pakai stainless steel measuring cup MSC-L. Dengan takaran yang sama, pukis akan matang bersamaan dan tampilannya lebih rapi—penting kalau Anda jualan di outlet yang mengutamakan visual.
Topping Bikin Nostalgia
Pukis jadul biasanya cuma gula dan cokelat meses. Sekarang varian bisa keju, kacang, kismis, bahkan isi custard. Inilah yang bikin pukis bisa dijual ke segmen lebih muda tanpa kehilangan “jiwa lamanya”. Yang penting topping disiapkan dalam wadah terpisah agar cepat ditabur di atas adonan panas.
Hangat = Laris
Pukis paling enak dimakan hangat, baru turun dari cetakan. Jadi kalau dijual di toko atau di area sarapan hotel, suhu sajinya harus dijaga. Di sinilah display hangat membantu. Unit tertutup akan menjaga kelembapan dan higienitas, misalnya dengan hot showcase SHC-BW1. Pukis bisa ditata bertingkat, tetap hangat, tetap terlihat cantik, dan pelanggan tinggal ambil tanpa mengganggu produk lain.
Pada akhirnya, kue pukis bisa dibilang kue jadul yang fleksibel: bisa tampil ndeso di pinggir jalan, bisa juga tampil manis di etalase F&B modern. Resepnya gampang, modalnya kecil, dan alatnya tersedia. Selama tekstur empuknya dijaga, toppingnya royal, dan penyajiannya bersih serta hangat, pukis akan selalu punya tempat di hati pelanggan.
