Buat banyak orang, haggis terdengar seperti hidangan “aneh” dari Skotlandia: campuran jeroan, gandum, dan lemak yang dimasak dalam lambung domba. Di meme internet, haggis sering digambarkan menakutkan, bahkan dianggap makanan ekstrem. Padahal, kalau dibongkar pelan pelan, haggis justru sangat relevan dengan tren nose-to-tail cooking dan gaya masak yang menghargai setiap bagian hewan.
Dari legenda seram ke comfort food
Mitos yang beredar, haggis itu “asal campur semua sisa daging” lalu direbus begitu saja. Kenyataannya, haggis memakai jeroan pilihan seperti hati, jantung, dan paru domba yang dicincang halus, dicampur dengan oatmeal, bawang, lemak, dan rempah. Campuran ini dibumbui dengan teliti, lalu dikemas dan dimasak perlahan sampai lembut dan gurih. Rasanya mirip meatloaf versi rustic, bukan monster kuliner seperti yang sering dibayangkan.
Di dapur profesional, proses mencincang bukan lagi manual dengan pisau seharian. Pengusaha F&B biasanya mengandalkan
meat grinder penggiling daging agar tekstur jeroan dan daging lebih seragam. Dengan ukuran giling yang konsisten, campuran haggis lebih mudah diaduk, dibumbui, dan dikontrol kualitasnya, baik untuk porsi restoran maupun produksi catering.
Teknik masak: direbus, dikukus, atau dikreasikan ulang
Haggis tradisional dimasak lama sampai bumbu benar benar meresap. Di era modern, banyak chef memilih teknik steam atau kukus agar panas merata dan produk tidak pecah. Di dapur komersial, penggunaan
gas steamer pengukus membantu menjaga suhu stabil ketika memasak dalam jumlah besar, baik haggis utuh, versi mini, maupun varian lain seperti “haggis ball” untuk canapé dan finger food.
Apakah haggis cocok untuk lidah Indonesia?
Kalau dipikir pikir, konsep haggis tidak jauh dari pepaya daun isi oncom, semur jeroan, atau sosis sapidaging nusantara. Bedanya hanya di bumbu dan jenis biji bijian yang dipakai. Dengan sedikit adaptasi, misalnya menambah lada lebih pedas, rempah lokal, atau saus kremi, haggis bisa jadi menu unik di restoran Western, bistro tematik Eropa, atau hotel yang ingin menghadirkan pengalaman kuliner berbeda.
Dari “tabu” jadi nilai jual
Di era konsumen yang makin penasaran dengan cerita di balik makanan, haggis bisa menjadi menu storytelling yang kuat: tentang anti-food waste, tradisi peternak, dan cara suatu bangsa memaksimalkan hasil ternak. Dengan peralatan dapur yang tepat, mulai dari penggiling daging sampai steamer, hidangan yang dulu dianggap ekstrem justru berubah menjadi comfort food berkarakter. Kalau kamu tertarik mengembangkan menu otentik seperti ini, berbagai peralatan dapur komersial untuk mengolah daging dan masakan tradisional bisa kamu temukan di SATMESIN.
