Kimchi adalah contoh paling populer bagaimana ilmu awet-mengawetkan dari dapur tradisional bisa mendunia. Di Korea, kimchi lahir dari kebutuhan bertahan menghadapi musim dingin panjang. Sayuran seperti sawi putih dan lobak diawetkan dengan garam, cabai, bawang putih, dan jahe, lalu dibiarkan berfermentasi di suhu terkontrol. Hasilnya: lauk yang tahan lama, kaya rasa, dan ternyata sangat bersahabat dengan […]
Tag Archives: F&B
Matcha: Seremonial atau Cafe? Pertanyaan ini sering muncul ketika kita melihat matcha latte cantik di kafe, sementara di sisi lain ada matcha seremonial yang disajikan dengan penuh ritual di Jepang. Padahal, keduanya berasal dari bahan yang sama: bubuk teh hijau berkualitas yang digiling sangat halus. Bedanya ada pada tujuan, teknik seduh, dan cara dinikmatinya. Buat […]
Boba/Bubble Tea: Siapa Pelopor? Pertanyaan ini selalu muncul setiap kali tren minuman boba naik lagi. Sebagian besar jejaknya mengarah ke Taiwan, ketika kedai-kedai teh mulai bereksperimen mencampur teh susu dengan bola tapioka kenyal. Dari sana, bubble tea menyebar ke Asia, lalu ke seluruh dunia. Nama pelopor mungkin diperdebatkan, tetapi satu hal jelas: kreativitas barista Taiwan […]
Beberapa tahun terakhir, es kopi susu menjamur di mana-mana. Dari kedai kecil sampai jaringan kafe besar, menu satu ini hampir selalu ada. Banyak yang menyebutnya “tren kekinian”, padahal akar es kopi susu sebenarnya sudah lama: kopi hitam pekat yang dicampur susu kental atau susu cair, disajikan dengan es batu di warung dan restoran sederhana. Dari […]
Teh Poci: Tradisi Teko Tanah Liat identik dengan suasana santai di warung pinggir jalan, angkringan, sampai rumah makan keluarga. Teh panas disajikan dalam teko tanah liat, dengan cangkir kecil dan gula batu terpisah. Sederhana, tetapi penuh ritual: dituangkan pelan, dihirup aromanya dulu, baru diseruput pelan sambil ngobrol. Di dunia F&B, konsep teh poci menarik karena […]
Kalau kopi punya espresso, dunia teh di Asia Tenggara punya teh tarik. Minuman ini lahir dari budaya kedai mamak di Malaysia–Singapura, dibawa para pedagang India Muslim, lalu menyebar sampai ke kafe dan restoran modern di Indonesia. Ciri khasnya bukan cuma teh pekat dan susu kental, tetapi atraksi “ditarik” tinggi–rendah hingga berbusa lembut di permukaan. Rahasia […]
Tidak hanya soal minuman kuning kunyit atau pahitnya brotowali. Di balik sebotol jamu ada ilmu yang turun dari nenek ke ibu, dari ibu ke anak: cara memilih rimpang, menakar rempah, sampai membaca “bahasa tubuh” pelanggan. Selama puluhan tahun, para ibu dan “mbok jamu gendong” memegang peran penting menjaga kesehatan keluarga lewat ramuan dapur. Sekarang, jamu […]
Keduanya sama-sama minuman hangat khas Sunda, sering muncul di malam hujan, di warung tenda sampai kafe kekinian. Tapi “saudara serumpun” ini punya karakter berbeda. Bandrek menonjolkan pedas hangat dari jahe—sering diperkaya kayu manis, cengkih, dan gula merah. Bajigur lebih creamy: santan + gula aren + jahe tipis, kadang diberi pandan agar wangi lembut. Memahami perbedaan […]
Jawabannya ada pada kuah jahe yang pedas-aromatik dan bulatan ketan isi kacang yang legit. Perpaduan keduanya membuat badan terasa hangat dari tenggorokan hingga dada—itulah sebabnya wedang ronde jadi primadona malam hari, musim hujan, hingga menu takjil. Untuk pelaku F&B, minuman tradisional ini menarik karena bahan murah, bisa di-prep dalam batch, dan atraktif saat diracik live […]
Sering memicu debat. Ada yang menganggapnya “kopi termahal di dunia” dengan cita rasa super halus karena proses pencernaan luwak. Ada juga yang ragu: benarkah rasanya seistimewa itu, dan bagaimana soal kesejahteraan hewan? Untuk pelaku F&B, memahami tiga sisi ini—mitos, fakta, dan etika—membantu menyusun menu, edukasi pelanggan, dan memilih peralatan seduh yang tepat. Mitos vs Fakta […]
