Lemper: cerita di balik daun bukan hanya soal ketan yang pulen dan isian ayam yang gurih. Di balik gulungan sederhana itu ada teknik, higienitas, dan alur kerja dapur yang rapi. Aroma khas datang dari daun pisang yang dipanaskan ringan, sementara tekstur legit terbentuk dari ketan yang dimasak sabar lalu dipadatkan saat hangat. Untuk pelaku F&B, […]
Tag Archives: F&B
selalu punya tempat di ingatan banyak orang. Suara “cuit” uap, aroma pandan bercampur kelapa, dan gula merah yang meleleh di tengahnya bikin jajanan ini terasa hangat sekaligus nostalgia. Di banyak kota, putu munculnya memang malam hari, karena dulunya jadi camilan selepas aktivitas utama—ringan, manis, dan disajikan hangat. Dari sudut pandang F&B, putu menarik karena bahan […]
Jawabannya: hampir semua orang yang pernah jajan di depan sekolah, pasar pagi, atau gang komplek. Kue pukis itu sederhana, empuk, wangi, dan bisa diisi macam-macam. Karena itu sampai sekarang masih laku dijual di gerobak, kafe rumahan, bahkan hotel yang mau menampilkan jajanan tradisional di buffet. Buat pelaku F&B, pukis menarik karena costing-nya gampang dihitung, adonannya […]
sebenarnya dua sebutan untuk jajanan yang hampir sama: adonan tepung terigu beragi yang dipanggang di atas pelat panas, mengembang tebal, lalu diisi bahan manis. Di beberapa daerah disebut terang bulan, di kota-kota besar lebih populer nama martabak manis. Perbedaan utamanya biasanya ada di gaya adonan, ketebalan, dan topping. Yang satu cenderung klasik (gula, kacang, wijen), […]
Martabak: manis, telur, asalnya mana? Pertanyaannya seru karena di Indonesia kita kenal dua kubu besar: martabak manis (terang bulan) dan martabak telur bergaya Medan/Arab/India. Keduanya sama-sama jadi jajanan malam favorit, tapi jalur historinya sedikit berbeda. Martabak telur diduga kuat datang dari pengaruh India-Yaman yang masuk ke jalur perdagangan, lalu diadaptasi dengan telur dan daun bawang. […]
Nasi liwet: tradisi atau tren? Jawabannya sebenarnya dua-duanya. Dari sisi sejarah, nasi liwet sudah lama dikenal di Jawa, khususnya Solo dan sekitarnya, sebagai nasi gurih santan yang dimasak bersama daun salam, serai, kadang teri dan cabai. Disajikan hangat dengan suwiran ayam, labu siam atau sayur pedas, dan sambal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, nasi liwet […]
Nasi Uduk: aroma masa kolonial? Menarik kalau kita mundur sedikit ke era Batavia. Kawasan pelabuhan yang dihuni masyarakat Betawi, Melayu, dan pengaruh kuliner Nusantara lain sangat akrab dengan santan, serai, daun salam, dan rempah wangi. Dari situlah lahir nasi uduk: beras yang dimasak dengan santan dan rempah sehingga nasinya tidak cuma mengenyangkan, tapi juga harum. […]
adalah cara mudah melihat betapa kayanya dapur Indonesia. Satu nama, soto, tetapi rasa, kuah, dan isinya bisa sangat berbeda. Ada soto bening yang ringan, soto santan yang gurih, soto kuning yang wangi kunyit, sampai soto khas daerah yang memakai bahan sangat lokal. Untuk pelaku F&B, memahami variasi ini membantu menentukan style soto yang mau dijual […]
Pertanyaan ini muncul karena hampir setiap daerah merasa punya versi sate sendiri. Ada yang bilang lahir dari Jawa karena banyaknya sate ayam dan kambing di pesisir. Ada yang menautkan ke pengaruh pedagang Arab dan India yang membawa tradisi daging tusuk berbumbu. Lalu muncul lagi Madura dengan gaya bumbu kacang dan kecap yang harum bakaran arang. […]
Pertanyaan ini sering muncul karena kita kenal dua wajah siomay sekaligus. Di satu sisi ada siomay yang jelas berakar dari kuliner Tionghoa (khususnya gaya dimsum), di sisi lain ada siomay Bandung yang tampil dengan saus kacang, kentang, kol, dan tahu—sangat Indonesia. Buat pelaku F&B, memahami dua akar ini penting supaya resep, tampilan, dan peralatannya sesuai […]
